Nyanyian Sunyi Music Bos
Wednesday, June 14th, 2006Nyanyian Sunyi Music Box
Cerpen Koko P. Bhairawa
KESUNYIAN malam terpecah oleh alunan rangkaian notasi music box dari kamar tengah. Kini, hampir tiap malam nada-nada itu kehilangan pemiliknya. Hanya telinga-telinga dari sebagian jiwa yang merindu mencoba untuk terus mendengarkan. Perlahan,..perlahan…sepi dalam kesunyian rumah tanpa energi kelucuan.
***
“Mas, aku pengen naik lagi!”
“Apa?” tanyaku setengah tidak percaya.
Ini bukan yang pertama kalimat seperti itu muncul. Acap kali Nanda melontarkan niatnya untuk kembali melakukan pendakian. Dan yang membuatku tidak percaya, baru satu minggu yang lalu ia melakukan trip ke Dempo.
“Apa, Nanda tidak lelah?” pikirku.
Nanda, begitulah aku dan seisi rumah menyapa penghuni paling bontot di keluarga ini. Waluapun, ia paling junior tapi jangan coba-coba untuk mengatakan “Nanda masih kecil yach!” bisa-bisa cubitan melebihi capit kepiting akan segera mendarat di lengan ataupun bagian tubuh si pelontar kalimat itu. Dan dengan wajah manjanya, setelah mendaratkan cubitan Nanda langsung masuk kamar sembari mendengarkan musik favoritnya. Nah, kalau sudah seperti ini, alamat akan ada marah-marahan panjang dari si ‘kepang dusun’. Keluargaku memang sering bercanda dan ‘kepang dusun’ adalah panggilan sayang kami buat Nanda. Kalau sudah marah, hanya Bunda yang bisa membuat Nanda kembali bersemangat.
“Ya, iyalah. Gimana tidak semangat kalau Bunda datang ke kamar dengan cokelat dan es krim susu kesukaan?” kilahku suatu sore, dan disambut dentum tawa Ayah. Untung saat itu Nanda tidak lagi di rumah. Kalau ada pasti perang dunia kembali berkobar.
Nanda merupakan anak bungsu di keluarga, dan aku adalah satu-satu anak laki-laki di rumah. Ayahku seorang pegawai negeri di kantor pemerintah sedangkan bunda, sama seperti ibu-ibu yang lain tapi bedanya bunda memiliki usaha kecil-kecilan yaitu membuka warung kelontong didepan rumah.
Kicau burung Murai milik ayah tampak bersemangat menyambut matahari yang baru naik.
Seperti biasa ketika Minggu berulang, sebelum latihan kusempatkan diri bercengkrama dengan Merpati-merpati di taman belakang rumah. Nanda keluar dari kamarnya dengan terburu-buru. Melewati saja ayah dan bunda yang sedang asyik menonton berita pagi.
Bunda kemudian bangkit melihat Nanda yang sedang berkutat dengan sepatu gerigi-nya. Nampaknya Nanda sudah siap pergi.
”Kamu selalu lupa pakai ini. Di luar suhu tidak bersahabat. Kamu bisa kena pilek,
” Bunda menggerutu sambil melilitkan syal tenun ikat di seputar leher Nanda. Nanda hanya menurut saja. Ia membiarkan bunda merapikan pakaiannya.
”Ranselmu sudah siap?” tanya bunda.
”Sudah, emmm terima kasih bun..!” Nanda sudah selesai dengan sepatunya. Sedetik kemudian ia melompat berdiri sambil mencium kedua pipi bunda.
”Mereka nanti ngenterin pulang sampai ke rumahkan?”
”Iya, duh pada khawatirnya. Ini kan bukan yang pertama aku berangkat!” celetuk Nanda.
”Biarpun sudah seribu kali, bunda tetap khawatir. Kamu mau apa kalau bunda khawatir?” jawab bunda dengan nada agak gusar.
Nanda tertawa mendengar gerutu bundanya. Sesaat kemudian terdengar bel. Pasti teman-teman Nanda sudah datang. Ia melongok ke dalam. Ayah masih asyik menonton berita.
”Berangkat, Yah!”
”Hati-hati.”
Tanpa pamitan denganku, Nanda segera berangkat.
Tujuh hari sudah berlalu, berita dari Nanda belum juga datang baik via sms ataupun telephon. Dari sudut ruang keluarga terdengar suara khas dari jam tua peninggalan kakek. Sebelas kali berkeloneng, suaranya berintegral dengan sayup nada music box dari kamar tengah.
”Sepertinya bunda merindukan Nanda!” batinku bergumam. Memang bila bunda rindu pada anak bontotnya, bunda segera ke kamar Nanda sembari membunyikan music box yang acap kali menemani Nanda sebelum ia tidur.
”Tidak biasanya ia telat pulang!” kata bunda memecah kesunyian ruang tengah. Dengan langkah gontai bunda mendekati ayah yang sedang memutar-mutar ponsel.
Nanda izin satu minggu untuk pendakian dan bunda mengiyakan saja, lantaran musim ujian telah berakhir. Seharusnya tidak lebih dari jam dua belas siang tadi, ia telah tiba di rumah, tetapi hingga pukul sebelas malam belum juga kembali.
”Kringgg…ggg!”
”Hallo..!” sapaku.
”Assalamualaikum, Kak Aji ini Nanda” kata suara di seberang.
”Waalaikum salam, kamu dimana?” tanyaku kembali.
”Di terminal tansit, mungkin baru bisa pulang besok sore..” tiba-tiba suara diujung telephon terhenti.
”Nanda, hallo Nanda”
”Ada apa Aji?” tanya bunda.
“Astagfirullah, khuuusss…aku mimpi lagi” kemudian aku bangkit dan melangkah menuju ruang kecil di sudut depan.
Putaran jarum waktu terasa begitu cepat menghabiskan masa, kicau Murai kembali menghiasi kedatangan sang fajar.
“Sudah ada informsi dari kelompok pendakiaan Nanda?” tanya ayah padaku.
“Belum yah!” sejurus kemudian. Bunda datang menghampiri aku dan ayah yang sedang cemas memikirkan Nanda di beranda samping. ”Ayah..lihat ini..lihat ini yah,..!”
”Ada apa bun?” tanya ayah pensaran.
“Dua Orang Pendaki Tempo Hilang!”
“Ha..?” mataku seakan mau keluar dari tempatnya.
Selang beberapa menit kemudian, salah seorang rekan pendakian Nanda datang. ”Kami memang kembali tidak sesuai dengan jadwal, karena ketika kami akan turun, cuaca buruk datang hingga team tertahan dipuncak hingga satu hari.”
”Lalu di mana Nanda?” tanyaku penuh kecemasan.
”Begini kak. Saat turun karena medan yang masih berkabut, kami terpisah satu dengan yang lain. Hingga warga menemukan kami kemarin..”
”Lalu Nanda di mana?” tanyaku lagi.
”Kami terpisah kak!”
”Khus…sss!” darahku seakan terhenti mengalir, jantung seolah terhenti untuk beberapa saat. Ayah dan bunda tak bisa berkata apa. Keresahan semakin menjadi tatkala siang harinya, regu penolong menemukan ransel milik Nanda.
”Kami menemukan ini di dasar jurang” kata salah seorang regu penolong sembari menyerahkan ransel milik Nanda.
***
Tiga hari kemudian, semua penantian berakhir. Sesosok energik dan penuh kelucuan telah membenamkan diri pada wewangian kamboja dan rinai air dari tiap mata yang berkaca-kaca. Setelah melakukan pencarian, akhirnya Nanda berhasil diketemukan, tapi Nanda kehilangan begitu banyak darah akibat benturan di kepala belakangan akibat terperosok di jurang dan kepalanya menghantam bebatuan jurang.
Kesunyian malam kembali terpecah oleh alunan rangkaian notasi music box dari kamar tengah. Kini, hampir tiap malam nada-nada itu kehilangan pemiliknya. Hanya telinga-telinga dari sebagian jiwa yang merindu mencoba untuk terus mendengarkan. Perlahan,..perlahan…sepi dalam kesunyian rumah tanpa energi kelucuan. Kupandangi figura dengan gambar besar Nanda memeluk Merah Putih di puncak Dempo.
Palembang, 21 Mei 2006