Hari Pertama dan Terakhir di KRI Tanjung Nusanive
Hari Pertama dan Terakhir di KRI Tanjung Nusanive
Matahari
sepertinya begitu bersemangat menyambut para peserta yang sedang menikmati
suasana pagi Selasa (12/07) di dek kapal, sampai akhirnya meraka harus turun
guna mengikuti upacara pemberangkatan dan pelepasan. Hadir pada kesempatan itu
Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), Bambang Sudibyo dan Kepala Staf
Angkatan Laut (KSAL), Laksamana TNI Slamet Soebijanto. Pada kesempatan itu juga
baik Mendiknas maupun KSAL kembali mengingatkan akan nilai-nilai kebangsaan dan
wawasan nusantara yang menjadi modal dasar dalam membangun karakter diri.
Akhirnya dengan diiringi Tari Tepak Lenggang dan ondel-ondel Betawi, para
peserta satu persatu masuk ke dalam kapal disambut pelepasan tali tros kapal
oleh KSAL.
Pelayaran
Kebangsaan VI kali ini, akan mengarungi lautan dengan rute Jakarta-Pulau
Bangka-Tanjung Pinang-Pulau Penyengat-Pulau Tolop-Jakarta. berlayar dari
tanggal 11-19 Juli 2006. Adapun agenda Pelayaran Kebangsaan meliputi suatu
penelitian makalah, diskusi kelompok, role
play, pementasan seni budaya, bakti sosial, dialog dengan tokoh masyarakat,
mengunjungi tempat-tempat bersejarah, menyusun rekomendasi dan siaran pers.
Empat jam sudah
kapal membelah birunya lautan tanpa sedekitpun permasalahan, tiba-tiba ditengah
asyiknya para peserta mendapatkan materi tentang kebaharian, seorang anak buah
kapal mendatangi panitia mengabarkan bahwa salah satu mesin kapal mengalami
kerusakan. Alhasil dengan berat hati, Drs. Abdul Muin Angkat selaku ketua
rombongan menyampaikan berita tersebut kepada seluruh peserta. Seluruh peserta dengan
sigapnya langsung kembali ke kamar masing-masing guna melakukan pengepakan
barang-barang pribadi. Dari wajah-wajah peserta tanpak kekecewaan yang begitu
besar. Akan tetapi, permasalahan teknis tidak bisa dianggap remeh. Kapal pun
kembali ke dermaga Tanjung Priok. Namun, sekali lagi sepertinya peserta harus
kecewa karena kapal tidak bisa sandar di dermaga lantaran semua lokasi sandar
dipenuhi kapal barang. Lama kami menanti kepastian akan sandar atau tidak. Pada
kesempatan ini banyak diantara peserta memanfaatkan waktu untuk beristirahat
ataupun sekedar duduk-duduk di cafe dek.
Melihat situasi
yang tidak menentu, aku bersama beberapa rekan memberanikan diri naik ke
anjungan kapal. Disana kami bertemu dengan Letkol Laut Suroso Hadi selaku
panitia dari TNI AL. Beliau kemudian menjelaskan kondisi kapal, sehingga
kesimpulan yang kami terima bahwa untuk bisa melanjutkan perjalanan kami harus
menggunakan kapal yang lain. Dan itu baru bisa dilaksanakan pukul 12 malam
nanti.
Guna mengisi
waktu dan menghindari jenuh. Panitia persidangan membagi kami kedalam
kelompok-kelompok kecil berdasarkan makalah yang kami kirim sebelumnya sesuai
dengan isu berbasis tema terpilih. Ada lima kelompok, dimana masing-masing
kelompok terbagi atas 26-28 peserta. Tiap kelompok ada yang membahas tentang
Solidaritas Sosial dan Social Capital, ada juga berdiskusi tentang Hubungan
antar kelompok dan pembaruan, Pendidikan-Teknologi dan Lingkungan, Pertahanan
Keamanan, sedangkan aku ditempatkan pada kelompok IV yang akan membahas tentang
Kesadaran dan Penegakan Hukum. Ditiap kelompok akan dipandu oleh seorang
akademisi yang berkompeten dibidangnya. Bapak Harry Suherman adalah pemandu
yang bertanggung jawab atas kelompok kami selama pelayaran ini. Malam itu ada
empat mahasiswa terpilih yang akan mempresentasikan makalahnya. Mereka
masing-masing Prakoso Bhairawa Putera S
(Univ. Sriwijaya) dengan pokok pikiran tentang Menuju Gerakan Anti – Korupsi di
Daerah, Yudhi Mustika (USU) dengan pokok pikiran tentang Kesadaran dan
Penegakan Hukum, sub pokok Pembinaan Kesadaran Hukum di Desa, Dian Anugrah
(Univ. Andalas) dengan pokok pikiran Pornografi dalam Perspektif Sosiologi
Hukum, dan Adi Tri Pramono (UGM), dengan pokok pikiran tentang Refleksi Hak
Asasi Manusia. Kesempatan pertama presentasi pun diberikan kepada saya. Hampir
2 jam kami berdiskusi dan merumuskan langkah-langkah kongkrit guna menghasilkan
solusi terhadap permasalahan, hingga kami tak sadarkan diri bahwa tengah malam
nanti kami harus meninggalkan kapal ini.
Hari pertama yang
terlalu berat buat seluruh peserta dan panitia akan segera berakhir. Tepat
pukul 00.30 dini hari (13/07), kami dipindahkan menuju kapal yang lain. Kapal
itu tidak semegah ataupun semewah KRI Tanjung Nusanive, karena kapal yang akan
membawa kami berlayar adalah kapal yang digunakan sebagai kapal rumah sakit.
Kapal itu bernama KRI Tanjung Dalpele-972 dengan Letkol Laut E. Estu Prabowo
sebagai komandannya. Ditengah remang lampu dermaga Tanjung Priok kami satu
persatu masuk dan ditempatkan di ruang-ruang kosong yang hanya beralaskan
karpet buldru biru tanpa ada tempat tidur, lemari ataupun meja kursi seperti
Tanjung Nusanive. Keadaan serupa ternyata menimpa seluruh panitia. Tanpa
mengeluh dan tuntutan mata yang ingin segera memejamkan mata, kamipun langsung
beristirahat. Padahal kalau mau diperhatikan, kami tidur dengan tas sebagai
bantal kepala dan satu ruang berukuran 4 x 6 m berisi sekitar 8 – 15 orang.

July 28th, 2006 at 1:13 am
Well, gaya tulisan dikau masih seperti dulu… tapi udah ada kemajuan dikit…. hueheheh….
kasih postingan yang seru2 seru dong….