Akhirnya,..gw bisa daftar Ujian

February 1st, 2007 by bhairawaputera

Alhdll…akhirnya penantian itu mulai mencapai titik terang, hari ini tepat di kamis 1 feb 2007, gw bs daftar buat ujian skripsi,..memang biasa sih, tapi akan sedikit luar biasa dengan hal-hal yang terjadi di sekeliling gw,..mulai dari telat bayar SPP yang hampir kena SO, trus hanya ada 1 bulan buat menyulap thu kertas-kertas menjadi kumpulan tulisan yang sampe hari ini gw masih bingung apa yang gw tulis,…

tapi gw mau ngucapin syukur kepada Allah,..thanks,..buat sang bijaksana yang terlalu bijaksan dan memberikan banyak cerita dan semangat buat gw,…u are my girls, buat dua dosen pembimbing gw,..bu Retno dan Mami Lili,..maaf bu retno, ko sengaja maksa buat maju,..gw lebih rela di marah sama para dosen-dosen dari pada gw dipecat dari sang bijaksana,..he….

ini adalah sebuah bagian dari panjangnya jalan yang mungkin harus gw lewati,..tapi bisa mencapai titik ini adlah sebuah hal yang begitu gw nantikan,..besok 13 Feb,…adalah sebuah perang yang sebenarnya akan dimulai,..UJIAN SKRIPSI,..entah apa yang akan gw lakuin dihadapan para dosen-dosen yang katanya sih bisa menjadi sesuatu yang gak pernah kita bayangi ketika menguji Skripsi kita,…

Ehm..mungkin gw termasuk mahasiswa yang senang berlama-lama menyelesaikan kuliah, mungkin gw termasuk orang yang terlena dengan apa yang telah gw dapatkan selama ini dan akhirnya tujuan gw untuk sebuah gelar sebagai Sarjana sempat gw lupain, tapi,..inget lo tetap mesti tamatin kuliah thu,..kata seseorang yang selalu mencambuk gw dengan semangatnya,..hingga gw masih bisa bangkit dan maju hari ini,..

Eh,..satu minggu ini, gw gak jelas apa yang terjadi pada diri gw,..terkadang gak tidur di malam, dan terkadang terjaga di tengah keasyikan orang-orang di negeri dongengnya,..gw terkadang keluar kamar dan menyendiri di sudut,..sembari memandang tumpukan bahan yang entah apa bisa gw rampungkan waktu itu,..tapi hari ini minimal usaha gw dan usaha sang bijaksana untuk terus meyakin ternyata bisa berhasil,…gw daftar ujian,..ha..ha..terlalu bisa tapi jujur gw gk pernah bs menyangka bisa secepat ini bisa merampungkan,..dengan apa yang gw perbuat selama ini,..

Thanks,..dan gw butuh doa untuk bisa lepas dari tgl 13 Feb,..karena gw masih sayang dang terlalu sayang padamu,..

Akhirnya..Penantian 4 Tahun..

January 9th, 2007 by bhairawaputera

Akhirnya, setelah penantian 4 tahun,,..gw si jelek KOKO (itu kata si meong) berhasil menjadi juara…he..he..gimana Meong,..gw udah coba buktikan kalo semuanya bisa berjalan lancar..tapi karena naskah lo tersasar entar kemana jadilah gw yang berhasil menjadi TOP Juara,..Juara 1 Lomba Karya Tulis Bidang Kebaharian TK Nasional 2007,…

sebuah penantian yang cukup memusingkan dan membuat hati bertanya-tanya sebelum pengumuman, apakah berhasil atau hanya akan menjadi mulut gede…tahun 2004 hanya bisa nangkring di urutan 3 nasional, tahun 2005 naik ke urutan 2, eh tahun 2006 malah melorot ke urutan 5 (alias harapan 2),..benci…tapi alhamdl..tahun 2007 dibuka dengan prestasi tertinggi,..Upacara TNI AL pun Insya Allah hadir pada puncak acara,..eh..dan yang penting 3 juta,..man..

tetapi, ditengah-tengah rasa syukur,..awal yang kurang baek,..harus gw alamin,..gaji gw telat,..tapi its oke semuanya akan cepat pulih kok,..Nah,..target telah dicapai tapi kini target gede adalah segera menaklukkan para dosen-dosen di ujian skripsi,..doakan gw ya,..dan buat Meong,..Semangat..perjuangan masih terlalu panjang, buat lo dan buat KITA,…oke…

Menuju Investasi Masyarakat Syar’i

December 19th, 2006 by bhairawaputera

Menuju Investasi Masyarakat Syar’i

Oleh : Prakoso Bhairawa Putera S

Peneliti Muda FISIP Universitas Sriwijaya

Kehadiran perbankkan syariah dalam sistim perbankan nasional bukanlah semata-mata mengakomodasi kepentingan penduduk

Indonesia

yang mayoritas muslim. Namun lebih kepada adanya faktor keunggulan atau manfaat lebih dari perbankan syariah dalam menjebatani kegiatan ekonomi dan lebih umum terhadap krisis.

Seiring dengan itu, telah tumbuh sebuah kecenderungan spiritual yang mulai melihat mudharatnya sistim bunga (interes based banking), bersamaan dengan keyakinan yang semakin luas bahwa bunga bank adalah haram. Walaupun bagi sebagian kalangan masih dipandang subhat (raguragu), mengingat alasan dharurat dan belum adanya keberanian majelis ulama Indonesia dalam memberikan fatwa haram atas bunga bank. ….

Selengkapnya baca disini

Mendiknas Berikan Penghargaan Bahasa dan Sastra 2006

December 19th, 2006 by bhairawaputera

Mendiknas Berikan Penghargaan Bahasa dan Sastra 2006

Monday, 13 November 2006 Jakarta (Kamis, 9 November 2006)— Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo memberikan penghargaan bahasa dan sastra untuk penulis karya sastra, buku berbahasa Indonesia, pembacaan puisi, penulisan cerpen, dan duta bahasa. Penghargaan tersebut diberikan pada Puncak Acara Bulan Bahasa dan Sastra 2006, hari ini, di Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Rawamangun, Jakarta. Bulan Bahasa dan Sastra yang diselenggarakan ini merupakan Peringatan Nasional Hari Sumpah Pemuda/Hari Pemuda yang bertujuan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Terpilih tiga karya sastra dari tiga orang sastrawan yang mendapat penghargaan sastra tahun 2006. Mereka adalah Remy Sylado, dengan karyanya yang berjudul Kerudung Merah Kirmizi, Sitok Srengenge, Kelenjar Bekisar Jantan, dan Sitor Situmorang, Biksu Tak Berjubah. Dalam upaya menumbuhkan persaingan peningkatan mutu penggunaan bahasa dalam buku non-bahasa dan sastra, telah dilakukan penilaian buku berbahasa Indonesia terbaik. Terbaik pertama adalah buku Menjadi Pasangan Paling Berbahagia, karangan Cahyadi Takariawan, penerbit Syaamil, Bandung. Terbaik kedua adalah buku Bolak-Balik Bal, karangan Gde Aryantha Soetama, penerbit buku Arti (Arti Foundation), Bali. Sedangkan terbaik ketiga adalah buku Pendidikan Agama Islam, karangan Muhamad Alim, penerbit Remaja Rosdakarya, Bandung. Peraih penghargaan Duta Dsc01179 Bahasa adalah wakil dari Provinsi Sumatera Selatan (Prakoso Bhairawa dan Henny Primasari), disusul Provinsi Lampung, Jawa Barat, Sumatera Utara, DKI Jakarta, dan Bali. Selain penghargaan-penghargaan tersebut, dalam upaya peningkatan mutu penggunaan bahasa di kalangan media cetak, telah terpilih sepuluh surat kabar yang memperoleh penghargaan. Kesepuluh media tersebut berturut-turut adalah Media Indonesia, Koran Tempo, Kompas, Bisnis Indonesia, Jawa Pos, Investor Daily, Suara Pembaruan, Republika, Berita Kota, dan Haluan. Menurut Kepala Pusat Bahasa Depdiknas Dendy Sugono, penilaian kesepuluh media cetak peraih penghargaan tersebut, selain dilakukan oleh Pusat Bahasa Depdiknas, juga, oleh kalangan media sendiri. "Penilaian ini melibatkan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Forum Bahasa Media Masa, asosiasi jurnalis, serta wakil dari surat kabar dan majalah," kata Dendy. Dalam rangka pemilihan pemerintah provinsi penerima Adi Bahasa tahun 2008, pada tahun ini telah dimulai penilaian penggunaan bahasa di lingkungan wilayah provinsi. Dari 33 provinsi, terpilih delapan provinsi berada pada peringkat atas. Provinsi tersebut berturut-turut adalah Bangka Belitung, Jawa Barat, Jambi, Jawa Timur, Sumatera Barat, Sulawesi Tenggara, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Lampung.

Info diperoleh dari sini

Sajak Dini Hari

December 19th, 2006 by bhairawaputera

Sajak Dini Hari

I/

aku lelah – mata tak ingin kupejam

karena ketika tidur aku takut bermimpi tentang kau

II/

aku lelah – tangan tak kurela dipasung

karena saat diam aku takut tinta melumer di kertas ini

III/

aku lelah – otak tak kubiarkan rehat

karena tatkala istirahat aku takut sedetik kemudian bayangmu hadir

IV/

tapi aku tak kan lelah

dimana pagiku selalu bertemu dirimu

dilipatan dompetku

Sudut 473, 30/10/2006

Allah Masih Sayang…

October 18th, 2006 by bhairawaputera

Allah Masih sayang sama Gw

inilah cerita sehari setelah gw dimarah dan dikutuk habis-habis sama AmeL..

Apa yang ada dibenak kita, ketika sesuatu benda kesayangan harus hilang, dan hilangnya benda itu tepat disaat kita sedang menjalankan ibadahNya dan sedang menjalankan kewajiban kantor???
dongkol ataukah benci dan mengumpat…?
14 Oktober kemarin, sesuatu yang selama ini menemani dan menjadi saksi perjalanan ide-kreativitas gw tiba-tiba harus lenyap. Ponsel Communicator yang selama ini menjadi tumpuan kata-kata raib diambil sosok ang mungkin lebih membutuhkannya.

Sore itu, seperti biasa menjelang lebaran, Telkomsel kembali menggelar ramadhan fair dan gw mendapat tugas untuk membagi-bagikan panduan mudik lebaran. Tidak sedikitpun firasat bahwa itu hp bakal hilang, sebelumnya seorang rekan gw permisi ke wc. alhasil gw sendirian sedang yang datang rame banget, dan dengan kecerobohan gw, hp itu gw letakkan di laci. dan ketika hendak berbuka gw baru sadar kalo hp udah lenyap,  yang gw pikirkan saat itu hanya bagaimana nasib tulisan2 gw yang belum sempat di back-up di komputer. Naskah Novel yang seharusnya tinggal memasuki tahap akhir hilang sudah, cerpen2 terbaru yang siap kirim hilang, begitu juga dengan puisi2 gw yang gak jelas berapa banyaknya…itu karya gw 2 bulan yang belum sempat dikirim ataupun di back-up…"HANCUR GW…!"

tetapi sesaat kemudian, gw berpikir,..mungkin inilah peringatan dari Nya,..karena gw yakin DIA masih sayang sama gw, dan ini adalah bagian dari peringatannya…mungkin selama ini gw banyak melakukan kelalaian demi kelalaian serta kebodohan demi kebodohan…di Magrib ku, untuk pertama kali aku menjatuhkan air dari kantung itu.."Ya Allah, thanks banget undah ngingetin!!!!"

Nah, ramadhan tinggal beberapa hari lagi,,…gw mesti mengejar semua ketinggalan dan mesti semangat walau hp udh lenyap tapi….hidup belum berakhir….

NB:ALL FRIENDS PLEASE,…kirimin gw no hp loe semua,….coz gw gak punya no2 kalian, tapi no hp gw tetap sama kok, berkat telkomsel yang baek hati, dan katu ganti gw bisa di pake….

SEMANGAT….ALLAHUAKBAR…..!!!!!

(mAAF bahasanya berantakan banget,..maklum lagi pusing…)

Diskusi—Diskusi dan Ship Tour

August 4th, 2006 by bhairawaputera

Komando_radikal_romantise

Pagi (13/07) ketika kesadaran terbangun oleh suara panggilan dari mikrofon, ”Priiittt…perhatian kamar-kamar…kepada seluruh peserta pelayaran kebangsaan menuju dek hely…perhatian selesai!”. itulah panggilan yang kerapa kami dengarkan. Bila sudah seperti itu, tanpa memikirkan ini dan itu seluruh peserta bersegera menuju dek hely (ruang terbuka di dek C tempat berkumpulnya seluruh peserta untuk menerima instruksi-red). Kami belum sadarkan diri bahwa kapal yang kami tumpangi bukan Nusanive melainkan Dalpele. Pagi itu, hari masih berembun wajar saja karena jam menunjukkan pukul 05.34 menit. Setelah diberikan pengarahan akan jadwal hari ini, seluruh peserta kembali ke kamar masing-masing dan hanya diberikan waktu 15 menit untuk segera kumpul lagi dengan pakaian olahraga lengkap.

Hari ini kami direncanakan hanya melakukan kegiatan di dalam kapal saja, maklum dengan permasalahan teknis pada KRI Tanjung Nusanive, pergantian kapal dan mundurnya jadwal, maka panitia pun mengadakan perubahan terhadap jadwal. Alhasil tujuan kami pertama bukanlah pulau Bangka sesuai dengan jadwal semula, melainkan langsung menuju Tanjung Pinang. Itu artinya banyak sekali jadwal yang akan dipangkas. Rute pun mengalami perubahan, dari Jakarta kapal bertolak menuju Pulau Bintan – Tanjung Pinang, Pulau Penyengat – Pulau Tolop – Pulau Bangka dan kembali ke Jakarta.

Setelah melakukan olahraga pagi kami diberikan kesempatan untuk melakukan aktivitas pribadi. Aku dan rekan-rekan sekamar berinisiatif untuk mandi, sementara yang lain asyik mengabadikan moment dengan foto-foto di dek kapal. Pukul 07.00 tepat kami telah siap diruang makan, tapi kali ini kami tidak bisa langsung makan. Menurut Penanting (Juru Penyedia Makan-red) yang juga dari rekan peserta, kami harus menunggu peserta yang lain baru sama-sama makan. ”Ah,..seperti ala militer saja!” ucap Fauzi peserta dari Univ. Lampung. Kami memang adalah mahasiswa dengan latar belakang yang berbeda dan rata-rata tidak terbiasa dengan kehidupan ala militer, dan ketika hal itu harus kami lakukan, maka sudah pasti akan adanya benturan. Namun, setelah mendapatkan penjelasan dari ABK, kami pun harus menerima aturan itu sebagai sebuah proses pendisiplinan diri. 

Hari pertama di KRI Tanjung Dalpele-972, kami habiskan dengan diskusi dan diskusi. Namun, sekitar pukul 16.05 aktivitas mengasyikkan. Panitia TNI-AL memberikan kesempatan kepada seluruh peserta untuk melakukan ship Tour. Kami akan dipandu untuk menjelajah setiap sudut dari KRI ini. Mulai dari ruang penyimpanan logistik, ruang ABK, ruang mesin sampai dengan Anjungan. Bahkan kami diijinkan untuk berdialog dengan semua ABK.

Hari Pertama dan Terakhir di KRI Tanjung Nusanive

July 27th, 2006 by bhairawaputera

Hari Pertama dan Terakhir di KRI Tanjung Nusanive

Tari_tepak_lenggang_mengiring_keberangka

Matahari
sepertinya begitu bersemangat menyambut para peserta yang sedang menikmati
suasana pagi Selasa (12/07) di dek kapal, sampai akhirnya meraka harus turun
guna mengikuti upacara pemberangkatan dan pelepasan. Hadir pada kesempatan itu
Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), Bambang Sudibyo dan Kepala Staf
Angkatan Laut (KSAL), Laksamana TNI Slamet Soebijanto. Pada kesempatan itu juga
baik Mendiknas maupun KSAL kembali mengingatkan akan nilai-nilai kebangsaan dan
wawasan nusantara yang menjadi modal dasar dalam membangun karakter diri.
Akhirnya dengan diiringi Tari Tepak Lenggang dan ondel-ondel Betawi, para
peserta satu persatu masuk ke dalam kapal disambut pelepasan tali tros kapal
oleh KSAL.

Pelayaran
Kebangsaan VI kali ini, akan mengarungi lautan dengan rute Jakarta-Pulau
Bangka-Tanjung Pinang-Pulau Penyengat-Pulau Tolop-Jakarta. berlayar dari
tanggal 11-19 Juli 2006. Adapun agenda Pelayaran Kebangsaan meliputi suatu
penelitian makalah, diskusi kelompok, role
play
, pementasan seni budaya, bakti sosial, dialog dengan tokoh masyarakat,
mengunjungi tempat-tempat bersejarah, menyusun rekomendasi dan siaran pers.

Empat jam sudah
kapal membelah birunya lautan tanpa sedekitpun permasalahan, tiba-tiba ditengah
asyiknya para peserta mendapatkan materi tentang kebaharian, seorang anak buah
kapal mendatangi panitia mengabarkan bahwa salah satu mesin kapal mengalami
kerusakan. Alhasil dengan berat hati, Drs. Abdul Muin Angkat selaku ketua
rombongan menyampaikan berita tersebut kepada seluruh peserta. Seluruh peserta dengan
sigapnya langsung kembali ke kamar masing-masing guna melakukan pengepakan
barang-barang pribadi. Dari wajah-wajah peserta tanpak kekecewaan yang begitu
besar. Akan tetapi, permasalahan teknis tidak bisa dianggap remeh. Kapal pun
kembali ke dermaga Tanjung Priok. Namun, sekali lagi sepertinya peserta harus
kecewa karena kapal tidak bisa sandar di dermaga lantaran semua lokasi sandar
dipenuhi kapal barang. Lama kami menanti kepastian akan sandar atau tidak. Pada
kesempatan ini banyak diantara peserta memanfaatkan waktu untuk beristirahat
ataupun sekedar duduk-duduk di cafe dek.

Melihat situasi
yang tidak menentu, aku bersama beberapa rekan memberanikan diri naik ke
anjungan kapal. Disana kami bertemu dengan Letkol Laut Suroso Hadi selaku
panitia dari TNI AL. Beliau kemudian menjelaskan kondisi kapal, sehingga
kesimpulan yang kami terima bahwa untuk bisa melanjutkan perjalanan kami harus
menggunakan kapal yang lain. Dan itu baru bisa dilaksanakan pukul 12 malam
nanti.

Guna mengisi
waktu dan menghindari jenuh. Panitia persidangan membagi kami kedalam
kelompok-kelompok kecil berdasarkan makalah yang kami kirim sebelumnya sesuai
dengan isu berbasis tema terpilih. Ada lima kelompok, dimana masing-masing
kelompok terbagi atas 26-28 peserta. Tiap kelompok ada yang membahas tentang
Solidaritas Sosial dan Social Capital, ada juga berdiskusi tentang Hubungan
antar kelompok dan pembaruan, Pendidikan-Teknologi dan Lingkungan, Pertahanan
Keamanan, sedangkan aku ditempatkan pada kelompok IV yang akan membahas tentang
Kesadaran dan Penegakan Hukum. Ditiap kelompok akan dipandu oleh seorang
akademisi yang berkompeten dibidangnya. Bapak Harry Suherman adalah pemandu
yang bertanggung jawab atas kelompok kami selama pelayaran ini. Malam itu ada
empat mahasiswa terpilih yang akan mempresentasikan makalahnya. Mereka
masing-masing Prakoso Bhairawa Putera S
(Univ. Sriwijaya) dengan pokok pikiran tentang Menuju Gerakan Anti – Korupsi di
Daerah, Yudhi Mustika (USU) dengan pokok pikiran tentang Kesadaran dan
Penegakan Hukum, sub pokok Pembinaan Kesadaran Hukum di Desa, Dian Anugrah
(Univ. Andalas) dengan pokok pikiran Pornografi dalam Perspektif Sosiologi
Hukum, dan Adi Tri Pramono (UGM), dengan pokok pikiran tentang Refleksi Hak
Asasi Manusia. Kesempatan pertama presentasi pun diberikan kepada saya. Hampir
2 jam kami berdiskusi dan merumuskan langkah-langkah kongkrit guna menghasilkan
solusi terhadap permasalahan, hingga kami tak sadarkan diri bahwa tengah malam
nanti kami harus meninggalkan kapal ini.

Hari pertama yang
terlalu berat buat seluruh peserta dan panitia akan segera berakhir. Tepat
pukul 00.30 dini hari (13/07), kami dipindahkan menuju kapal yang lain. Kapal
itu tidak semegah ataupun semewah KRI Tanjung Nusanive, karena kapal yang akan
membawa kami berlayar adalah kapal yang digunakan sebagai kapal rumah sakit.
Kapal itu bernama KRI Tanjung Dalpele-972 dengan Letkol Laut E. Estu Prabowo
sebagai komandannya. Ditengah remang lampu dermaga Tanjung Priok kami satu
persatu masuk dan ditempatkan di ruang-ruang kosong yang hanya beralaskan
karpet buldru biru tanpa ada tempat tidur, lemari ataupun meja kursi seperti
Tanjung Nusanive. Keadaan serupa ternyata menimpa seluruh panitia. Tanpa
mengeluh dan tuntutan mata yang ingin segera memejamkan mata, kamipun langsung
beristirahat. Padahal kalau mau diperhatikan, kami tidur dengan tas sebagai
bantal kepala dan satu ruang berukuran 4 x 6 m berisi sekitar 8 – 15 orang.

Bertemu 136 Mahasiswa Terpilih

July 27th, 2006 by bhairawaputera

Bertemu 136 Mahasiswa
Terpilih

Kri_tanjung_nusa_nive

Jakarta. ”Wow..!” begitulah
kata yang terlontar ketika sebagian peserta Pelayaran Kebangsaan VI tahun 2006
melihat ’rumah’ yang akan membawa mereka mengunjungi pulau Bangka, pulau
Bintan, pulau Penyengat, dan pulau Tolop. Sebuah spanduk panjang bertuliskan ”Selamat
Datang” dihiasi dengan pita biru menambah kebanggan para peserta yang datang.
Siang itu, Senin (11/07) matahari tampak bersahabat dengan seluruh peserta
Pelayaran Nusantara VI, satu persatu mahasiswa dan mahasiswi terpilih dari
seluruh Indonesia mulai berdatangan di dermaga 115 Tanjung Priok-Jakarta Utara.
Ada yang diantar ojek bagi mereka yang kebetulan datang dengan
menggunakan bus hingga terminal Tanjung Priok, ada juga yang langsung diantar
taksi. Kesan bangga bercampur bahagia terpancar dari raut wajah semua peserta
yang melakukan daftar ulang di meja panitia. Bagaimana tidak selama kurang lebih sembilan hari mereka akan didaulat
menjadi tamu istimewah di KRI Tanjung Nusanive-973 milik TNI Angkatan Laut.

Pelayaran
Kebangsaan tahun 2006 merupakan rangkaian lanjutan kegiatan serupa yang telah
memasuki tahun ke enam. Untuk tahun 2006 Pelayaran Kebangsaan mengambil tema ”Perkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia
yang Berbasis Kepulauan”
. Kegiatan ini diikuti sebanyak 136 peserta dari 89
perguruan tinggi negeri maupun swasta se-Indonesia, ditambah 3 orang peserta
dari setiap taruna Akademi Kepolisian dan 5 perwiara TNI AL. Para peserta
tersebut adalah mahasiswa yang telah dinyatakan lolos serangkaian tes yang
dilakukan oleh panitia dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi – Departemen
Pendidikan Nasional. Sebelum dinyatakan
lolos, mereka diharuskan membuat makalah/karya tulis tentang seputar
permasalahan bangsa yang terjadi saat ini. Bukan hanya itu kemampuan akademis
yang dibuktikan dengan standar indeks prestasi komulatif lebih dari 2,75 harus
mereka patuhi. Kegiatan-kegiatan keorganisasian di kampus serta prestasi
kulikuler juga menjadi penentu peserta yang dinyatakan lolos.

Setelah melakukan
daftar ulang, semua peserta di tempatkan pada kamar-kamar berukuran 3 x 5
meter. Kamar tersebut selanjutnya akan diisi oleh 4 orang peserta. Menjadi
peserta Pelayaran Kebangsaan bukan hanya menjadikan kebanggan semata tetapi
dengan semua fasilitas yang diberikan secara gratis tersebut, semua peserta
berusaha untuk dapat menjadikan hari-hari esoknya lebih berguna bagi diri,
keluarga, perguruan tinggi, nusa dan bangsa. Hal senada pun diungkapkan
Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutannya pada pembekalan tentang
wawasan kebangsaan di Istana Negara sore Senin (11/07). Pada kesempatan itu,
presiden menyempatkan diri beramah tamah dengan seluruh peserta.

Perjalanan hari pertama bagi sebagian peserta banyak dimanfaatkan untuk
melakukan foto-foto dan saling berkenalan satu dengan yang lainnya. Guratan tawa
dan senyum tak henti-henti terlihat dari setiap peserta. Walaupun, mereka harus
menunggu lebih dari 4 jam di dermaga lantaran kapal sedang melakukan uji coba
mesin dan simulasi pelayaran.

Nyanyian Sunyi Music Bos

June 14th, 2006 by bhairawaputera

Nyanyian Sunyi Music Box

Cerpen Koko P. Bhairawa

KESUNYIAN malam terpecah oleh alunan rangkaian notasi music box dari kamar tengah. Kini, hampir tiap malam nada-nada itu kehilangan pemiliknya. Hanya telinga-telinga dari sebagian jiwa yang merindu mencoba untuk terus mendengarkan. Perlahan,..perlahan…sepi dalam kesunyian rumah tanpa energi kelucuan.

***

“Mas, aku pengen naik lagi!”

“Apa?” tanyaku setengah tidak percaya.

Ini bukan yang pertama kalimat seperti itu muncul. Acap kali Nanda melontarkan niatnya untuk kembali melakukan pendakian. Dan yang membuatku tidak percaya, baru satu minggu yang lalu ia melakukan trip ke Dempo.

“Apa, Nanda tidak lelah?” pikirku.

Nanda, begitulah aku dan seisi rumah menyapa penghuni paling bontot di keluarga ini. Waluapun, ia paling junior tapi jangan coba-coba untuk mengatakan “Nanda masih kecil yach!” bisa-bisa cubitan melebihi capit kepiting akan segera mendarat di lengan ataupun bagian tubuh si pelontar kalimat itu. Dan dengan wajah manjanya, setelah mendaratkan cubitan Nanda langsung masuk kamar sembari mendengarkan musik favoritnya. Nah, kalau sudah seperti ini, alamat akan ada marah-marahan panjang dari si ‘kepang dusun’. Keluargaku memang sering bercanda dan ‘kepang dusun’ adalah panggilan sayang kami buat Nanda. Kalau sudah marah, hanya Bunda yang bisa membuat Nanda kembali bersemangat.
“Ya, iyalah. Gimana tidak semangat kalau Bunda datang ke kamar dengan cokelat dan es krim susu kesukaan?” kilahku suatu sore, dan disambut dentum tawa Ayah. Untung saat itu Nanda tidak lagi di rumah. Kalau ada pasti perang dunia kembali berkobar.

Nanda merupakan anak bungsu di keluarga, dan aku adalah satu-satu anak laki-laki di rumah. Ayahku seorang pegawai negeri di kantor pemerintah sedangkan bunda, sama seperti ibu-ibu yang lain tapi bedanya bunda memiliki usaha kecil-kecilan yaitu membuka warung kelontong didepan rumah.
Kicau burung Murai milik ayah tampak bersemangat menyambut matahari yang baru naik.

Seperti biasa ketika Minggu berulang, sebelum latihan kusempatkan diri bercengkrama dengan Merpati-merpati di taman belakang rumah. Nanda keluar dari kamarnya dengan terburu-buru. Melewati saja ayah dan bunda yang sedang asyik menonton berita pagi.
Bunda kemudian bangkit melihat Nanda yang sedang berkutat dengan sepatu gerigi-nya. Nampaknya Nanda sudah siap pergi.

”Kamu selalu lupa pakai ini. Di luar suhu tidak bersahabat. Kamu bisa kena pilek,

” Bunda menggerutu sambil melilitkan syal tenun ikat di seputar leher Nanda. Nanda hanya menurut saja. Ia membiarkan bunda merapikan pakaiannya.
”Ranselmu sudah siap?” tanya bunda.
”Sudah, emmm terima kasih bun..!” Nanda sudah selesai dengan sepatunya. Sedetik kemudian ia melompat berdiri sambil mencium kedua pipi bunda.
”Mereka nanti ngenterin pulang sampai ke rumahkan?”

”Iya, duh pada khawatirnya. Ini kan bukan yang pertama aku berangkat!” celetuk Nanda.
”Biarpun sudah seribu kali, bunda tetap khawatir. Kamu mau apa kalau bunda khawatir?” jawab bunda dengan nada agak gusar.
Nanda tertawa mendengar gerutu bundanya. Sesaat kemudian terdengar bel. Pasti teman-teman Nanda sudah datang. Ia melongok ke dalam. Ayah masih asyik menonton berita.

”Berangkat, Yah!”

”Hati-hati.”
Tanpa pamitan denganku, Nanda segera berangkat.
Tujuh hari sudah berlalu, berita dari Nanda belum juga datang baik via sms ataupun telephon. Dari sudut ruang keluarga terdengar suara khas dari jam tua peninggalan kakek. Sebelas kali berkeloneng, suaranya berintegral dengan sayup nada music box dari kamar tengah.

”Sepertinya bunda merindukan Nanda!” batinku bergumam. Memang bila bunda rindu pada anak bontotnya, bunda segera ke kamar Nanda sembari membunyikan music box yang acap kali menemani Nanda sebelum ia tidur.

”Tidak biasanya ia telat pulang!” kata bunda memecah kesunyian ruang tengah. Dengan langkah gontai bunda mendekati ayah yang sedang memutar-mutar ponsel.

Nanda izin satu minggu untuk pendakian dan bunda mengiyakan saja, lantaran musim ujian telah berakhir. Seharusnya tidak lebih dari jam dua belas siang tadi, ia telah tiba di rumah, tetapi hingga pukul sebelas malam belum juga kembali.

”Kringgg…ggg!”
”Hallo..!” sapaku.

”Assalamualaikum, Kak Aji ini Nanda” kata suara di seberang.

”Waalaikum salam, kamu dimana?” tanyaku kembali.

”Di terminal tansit, mungkin baru bisa pulang besok sore..” tiba-tiba suara diujung telephon terhenti.

”Nanda, hallo Nanda”

”Ada apa Aji?” tanya bunda.

“Astagfirullah, khuuusss…aku mimpi lagi” kemudian aku bangkit dan melangkah menuju ruang kecil di sudut depan.
Putaran jarum waktu terasa begitu cepat menghabiskan masa, kicau Murai kembali menghiasi kedatangan sang fajar.

“Sudah ada informsi dari kelompok pendakiaan Nanda?” tanya ayah padaku.
“Belum yah!” sejurus kemudian. Bunda datang menghampiri aku dan ayah yang sedang cemas memikirkan Nanda di beranda samping. ”Ayah..lihat ini..lihat ini yah,..!”
”Ada apa bun?” tanya ayah pensaran.
“Dua Orang Pendaki Tempo Hilang!”

“Ha..?” mataku seakan mau keluar dari tempatnya.

Selang beberapa menit kemudian, salah seorang rekan pendakian Nanda datang. ”Kami memang kembali tidak sesuai dengan jadwal, karena ketika kami akan turun, cuaca buruk datang hingga team tertahan dipuncak hingga satu hari.”

”Lalu di mana Nanda?” tanyaku penuh kecemasan.

”Begini kak. Saat turun karena medan yang masih berkabut, kami terpisah satu dengan yang lain. Hingga warga menemukan kami kemarin..” 

”Lalu Nanda di mana?” tanyaku lagi.

”Kami terpisah kak!”

”Khus…sss!” darahku seakan terhenti mengalir, jantung seolah terhenti untuk beberapa saat. Ayah dan bunda tak bisa berkata apa. Keresahan semakin menjadi tatkala siang harinya, regu penolong menemukan ransel milik Nanda.

”Kami menemukan ini di dasar jurang” kata salah seorang regu penolong sembari menyerahkan ransel milik Nanda.

***

Tiga hari kemudian, semua penantian berakhir. Sesosok energik dan penuh kelucuan telah membenamkan diri pada wewangian kamboja dan rinai air dari tiap mata yang berkaca-kaca. Setelah melakukan pencarian, akhirnya Nanda berhasil diketemukan, tapi Nanda kehilangan begitu banyak darah akibat benturan di kepala belakangan akibat terperosok di jurang dan kepalanya menghantam bebatuan jurang.

Kesunyian malam kembali terpecah oleh alunan rangkaian notasi music box dari kamar tengah. Kini, hampir tiap malam nada-nada itu kehilangan pemiliknya. Hanya telinga-telinga dari sebagian jiwa yang merindu mencoba untuk terus mendengarkan. Perlahan,..perlahan…sepi dalam kesunyian rumah tanpa energi kelucuan. Kupandangi figura dengan gambar besar Nanda memeluk Merah Putih di puncak Dempo.

Palembang, 21 Mei 2006