Puisi 27 Mei 2006

May 27th, 2006 by bhairawaputera

Kontemplasi 11 Mei

kembali kulepas satu umur hidup

kini ruhku seribu centi lebih dekat

tafsir angin dan gelombang

membuat jiwa kehilangan banyak masa

pada bibir Tanjung kulafazkan sajak zikir

desahku, riakmu, detakku, ayatmu

berintegral dalam langit pagi

kucicip embun diantara ilalang

kukecup hangat tanah berpasir

aku kehilangan banyak masa untukMu

Sepotong Bulan di Musi

ada
yang menari di riak sungai
cahayanya jatuh mencumbui tiap sudut
dari seberang ilir hingga seberang ulu
tapi hanya sepotong tampak olehku
dan pada ruang di bola mata
tak ada lagi motor tempel
yang selalu menjilati musi seperti siang tadi
bahkan rumah rakit di seberang
tempat bengkel karoseri taxi air
hanya terlihat sebentuk cahaya

malam kembali memainkan peran
menjadi saksi bagi rutinitas anak manusia
dari pelataran benteng malam memberikan
sepotong bulan dan sejuta bintang di mataku
barangkali ia paham arti perjuagan hingga

tak
rela membiarkan hati tersiksa demi cinta
membiarkan perasaan berbohong demi kata sayang
 :gelap tak selalu hitam bagi
diri

di antara kesendirian malam
ada syair luka yang dikirimkan Musi
sampah telah membuatnya malu untuk bercermin
Musi, kita berdua punya duka yang sama
walau dengan cerita yang berbeda
tapi kau lebih baik
kau jujur akan deritamu
sedang aku bersembunyi di tawa sepanjang tahun

tapi semuanya baru saja ditenggelamkan
di dasarmu dan arus takkan sanggup
membawanya ke seratus anak-anakmu
karena beban yang kulepaskan begitu berat
hingga asa putih dapat terbang ke bulan
untuk menjemput sepaket impian
agar besok di pagi ada kehangatan
dari mimpi yang terwujud
ada lukisan senyum di wajah
dan yang pasti akan ada narasi baru
dengan dirimu di sisiku

Palembang, 31/12/2004

Sketsa Asa

dahulu,

ada sebuah
harmoni yang mampu

meruntuhkan tiang
di rumah ke sembilan

menenggelamkan
susunan batu suci

tempat
bersemayamnya kepercayaan pada cinta

yang selama
dimensi waktu telah tumbuh

jadi sebentuk
bayangan di tiap kesendirian

kuor dari harmoni
atas nama kegelapan

membuka pertemuan
lubang hitam dan neraka

di rumah; dinding
– pintu – bahkan bantal kesayangan

melempar kutukan
yang semakin melebarkan luka

menjauhkan mimpi
dari rongga malam

bersama jiwa
tersudut sepi

menggigilku
bersama detik

semalam ada lampu
kota yang merayu bulan purnama

angin dan
kunang-kunang menari-nari

di atas gedung
tinggi menggoyang dan mendekap diri